EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN &
KONSELING
MENGGUNAKAN MODEL CIPP
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Instrumen dan Media Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Edi Purwanta, M.Pd
dan Dr. Ali Muhtadi, M.Pd
Oleh:
Beny Arifin Efendi
20713251031
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN
KONSELING
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Evaluasi
program dibutuhkan untuk melihat sejauh mana prrogram berjalan dan untuk
mengambil keputusan apakah program tersebut dapat dilanjutkan atau diperbaiki.
Dalam melaksanakan evaluasi program, terdapat banyak model evaluasi program
yang digunakan oleh ahli salah satunya adalah model evaluasi berorientasi pada
pengambilan keputusan. CIPP (Context-Input-Process-Product) merupakan model
evaluasi yang beorientasi pada pengambilan keputusan. Model ini dikembangkan
ole Daniel L. Stufflebeam dan kawan-kawannya (1967) di Ohio State University.
Munculnya model CIPP berawal dari program ESEA (Elementary and Secondary
Education Act) yang telah mengahabiskan banyak anggaran untuk membantu sekolah
dalam meningkatkan mutu pendidikan namun tidak menghasilkan apa-apa. Namun,
model CIPP berhasil dikembangkan dan kemudian diperkenalkan pada tahun 1971
yang melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi konteks, dimensi input, dimensi
proses dan dimensi hasil. Model ini adalah model evaluasi yang paling
komprehensif, sehingga penulis menggunakan model CIPP dalam melakukan evaluasi.
B.
Model Evaluasi CIPP
Model evaluasi ini menekankan
evaluasi sebagai proses yang menyeluruh dalam system manajerial. Stufflebeam
dalam (aip Badrujaman:2011) berpendapat bahwa evaluasi seharusnya memiliki
tujuan untuk memperbaiki (to improve) bukan untuk membuktikan (to prove). Evaluasi
seharusnya dapat membuat perbaikan, meningkatkan akuntabilitas, serta pemahaman
yang lebih dalam mengenai fenomena.
Terdapat empat komponen evaluasi yang juga merupakan tahapan
dalam evaluasi yaitu context, input, process serta product.
a.
Evaluasi Konteks (Context Evaluation)
Orientasi utama dari evaluasi
konteks adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu objek,
misalnya institusi, program, populasi target, atau orang. Evaluasi konteks
bertujuan untuk melihat apakah tujuan yang lama dan prioritas terhadapnya telah
sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya dilayani. Tujuan evaluasi konteks
dilakukan untuk menyediakan alasan yang rasional bagi konselor dan
administrator dalam menentukan tujuan dan kompetensi siswa, yang mana semua itu
akan membantu memebentuk program dan highlightberbagai elemen struktur
dalam kebutuhan akan perhatian.
b.
Evaluasi Input (Input Evaluation)
Evaluasi input berorientasi untuk membantu
menentukan program yang membawa pada perubahan yang dibutuhkan. Stufflebeam
dalam (Aip Badrujaman:2011) evaluasi ini dilakuakan dengan menelaah dan menilai
secara kritis pendekatan yang relevan yang dapat digunakan.
Evaluasi
input bertujuan untuk mengidentifikasi dan menelaah kapabilitas system,
alternatif strategi program, desain procedure dimana srtategi akan
diimplementasikan. input dalam bimbingan dan konseling dapat berupa jumalah
sumber daya manusia dalam divisi bimbingan dna konseling. Dukungan keuangan,
ruangan, peralatan seperti computer, software, serta media bimbingan.
Evaluasi
input dalam dilakukan dengan menggunakan metode menintervensi dan menganalisis
sumber-sumber yang tersedia, baik guru bimbingan dan konseling, ataupun
material, strategi solusi, relevansi desain prosedur, kepraktisan dan biaya,
kemudian dibandingkan dengan criteria yang ditetapkan berdasarkan telaah
literature, atau dengan mengunjungi program yang telah berhasil atau
berdasarkan ahli.
c.
Evaluasi Proses (Process Evaluation)
Evaluasi
Proses bertujuan untuk mengidentifikasikan atau memprediksi dalam proses pelaksanaan,
seperti cacat dalam desain procedure atau implementasinya. Juga bertujuan untuk
menyediakan informasi sebagai dasar memperbaiki program, serta untuk mencatat,
dan menilai procedure kegiatan dan peristiwa. Evaluasi proses dapat dilakuakn
dengan memonitor kegiatan, dan staf.
d.
Evaluasi Produk (Product Evaluation)
Shufflebeam
dan Shienfield dalam (Aip Badrujaman:2011) menjelaskan bahwa evaluasi produk
bertujuan untuk mengukur, menginterpretasikan, dan menilai pencapaian program.
Senantiasa bertujuan mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap luaran
(outcome) dan menghubungkan itu semua dengan objektif, konteks, input, dan
informasi proses, serta untuk menginterpretasikan kelayakan dan keberhargaan
program. Evaluais produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional
dan mengukur criteria objektif, melalui mengumpulkan penialian dari stakeholder,
dengan unjuk kerja (performing) baik dengan menganalisis secara
kualitatif maupun kuantitatif. Analisis secara kuantitatif ditekankan pada
aspek pengaruh program pada tujuan sedangkan kalitatif untuk memperkaya
informasi mengenai aspek produk.
Empat aspek Model Evaluasi CIPP (Context,
Input, Process dan Product) membantu pengambil keputusan untuk menjawab empat
pertanyaan dasar mengenai;
1.
Apa yang harus dilakukan (What
should we do?); mengumpulkan dan menganalisa needs assessment data untuk
menentukan tujuan, prioritas dan sasaran.
2.
Bagaimana kita melaksanakannya (How should we do it?); sumber daya dan langkah-langkah yang
diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan dan mungkin meliputi identifikasi
program eksternal dan material dalam mengumpulkan informasi
3.
Apakah dikerjakan sesuai rencana (Are we doing it as planned?); Ini menyediakan pengambil-keputusan
informasi tentang seberapa baik program diterapkan. Dengan secara terus-menerus
monitoring program, pengambil-keputusan mempelajari seberapa baik pelaksanaan
telah sesuai petunjuk dan rencana, konflik yang timbul, dukungan staff dan
moral, kekuatan dan kelemahan material, dan permasalahan penganggaran.
4.
Apakah berhasil (Did
it work?); Dengan mengukur outcome dan membandingkannya pada hasil yang
diharapkan, pengambil-keputusan menjadi lebih mampu memutuskan jika program
harus dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan sama sekali.
C.
Pengembangan Evaluasi Bimbingan dan Konseling Model CIPP
Contoh
pengembangan evaluasi bimbingan dan konseling pada makalah ini adalah
pengembangan evaluasi dengan teknik CIPP. Diharapkan dengan adanya pengembangan
dalam evaluasi bimbingan dan konseling. Nantinya akan semakin memperbaiki
kinerja para konselor dan guru BK di sekolah sehingga senantiasa mengoptimalkan
seluruh aspek yang dapat menunjang keterlaksanaan program dan pelayanan BK.
Langkah-langkah
dalam mengevaluasi bimbingan dan konseling adalah:
1.
Menentukan tujuan evaluasi
2.
Menentukan kriteria evaluasi
3.
Memilih desain evaluasi
4.
Menyusun tabel perencanaan evaluasi
5.
Menentukan instrumen Evaluasi
6.
Menentukan teknik analisis data
7.
Menyusun laporan hasil evaluasi
D.
Rencana
Evaluasi Program BK di SMA Negeri 6 Yogyakarta
Tabel. Rencana Evaluasi Program BK di SMA
Negeri 6 Yogyakarta
|
No. |
Komponen |
Indikator |
Sumber
Data |
Instrumen |
|
1. |
Context |
Merencanakan keputusan |
Guru BK |
Checklist |
|
Menentukan kebutuhan yang ingin
dicapai |
||||
|
Mengidentifikasi tujuan-tujuan
program |
||||
|
2. |
Input |
Topik atau materi layanan |
Guru BK |
Checklist |
|
Bidang layanan |
||||
|
Tujuan layanan |
||||
|
Metode layanan |
||||
|
Sumber daya manusia |
||||
|
Sarana dan perlatan pendukung |
||||
|
Dana atau anggaran, |
||||
|
Prosedur pelaksanaan program |
||||
|
Jenis layanan |
||||
|
Penggunaan waktu |
||||
|
3. |
Process |
Kegiatan
yang dilakukan |
Guru BK |
Checklist |
|
Penanggungjawab
kegiatan |
||||
|
Jumlah
pemberian layanan |
||||
|
Ketepatan
penggunaan media |
||||
|
Keterlibatan siswa |
||||
|
4. |
Produk |
Pemenuhan
kebutuhan siswa |
Guru BK |
Checklist |
|
Pencapaian
Tujuan program |
||||
|
Dampak
pemberian program bagi siswa |
||||
|
Evaluasi |
||||
|
Pelaporan |
||||
|
Tindak
Lanjut |
E.
Penetapan
Kriteria Evaluasi
Tabel.
Kriteria Evaluasi berdasarkan POP BK
|
No. |
Komponen |
Indikator |
Kriteria |
Sumber Data |
|
1. |
Context |
Merencanakan keputusan |
Konselor memahami karakteristik peserta
didik berdasarkan aspek fisik, kognitif, sosial, emosi, moral dan religius. |
POP BK |
|
Konselor memahami tugas perkembangan
siswa SMA |
||||
|
Konselor menggunakan teknik dalam
memahami karakteristik peserta didik |
||||
|
Konselor mengintegrasikan tuga
perkembangan dengan standar kompetensi siswa |
||||
|
Konselor menggunakan data hasil analisis
kebutuhan sebagai dasar pembuatan program |
||||
|
Menentukan kebutuhan yang ingin dicapai |
Konselor mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan peserta didik |
|||
|
Konselor menentukan komponen program
seperti layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan
responsif dan dukungan sistem |
||||
|
Memasukan semua bidang layanan yaitu
pribadi-sosial, belajar dan karir |
||||
|
Mengembangkan tema atau materi layanan
berdasarkan bidang layanan |
||||
|
Mengidentifikasi tujuan-tujuan program |
Konselor menentukan tujuan-tujuan
program |
|||
|
Konselor mengintegrasikan tujuan program
dengan tujuan sekolah yang ingin dicapai |
||||
|
2. |
Input |
Topik atau materi layanan |
Konselor merencanakan pemberian materi
dalam bidang Pribadi-Sosial |
|
|
Konselor merencanakan pemberian materi
dalam bidang belajar |
||||
|
Konselor merencanakan pemberian materi
dalam bidang karir |
||||
|
Bidang layanan |
Program yang dibuat mencakup layanan
bidang pribadi-sosial, |
|||
|
Program yang dibuat mencakup
layanan bidang belajar |
||||
|
Program yang dibuat mencakup layanan
bidang karir |
||||
|
Tujuan layanan |
Konselor mencantumkan tujuan kegiatan di
setiap layanan |
|||
|
Metode layanan |
Konselor menggunakan metode dalam setiap
kegiatan |
|||
|
Sumber daya manusia |
Program kegiatan yang dilaksanakan
dilakukan oleh konselor profesional |
|||
|
Guru BK di sekolah minimal lulusan S1
bimbingan dan konseling |
||||
|
Setiap guru BK melayani 150 siswa |
||||
|
Terdapat koordinator BK |
||||
|
Kegiatan yang direferal dilakukan oleh
tenaga profesional |
||||
|
Sarana dan peralatan pendukung, |
Konselor menggunakan media pendukung
dalam memberikan layanan |
|||
|
Terdapat ruang bimbingan dan konseling |
||||
|
Dana atau anggaran, |
Konselor mencantumkan anggaran biaya
yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu program |
|||
|
Prosedur pelaksanaan program |
Konselor mencantumkan prosedur
pelaksanaan pada setiap jenis kegiatan |
|||
|
Jenis layanan |
Persiapan |
|||
|
Layanan Dasar |
||||
|
Layanan peminatan dan perencanaan
individual |
||||
|
Layanan responsif |
||||
|
Dukungan sistem |
||||
|
Kegiatan tambahan dan pengembangan
profesi |
||||
|
Penggunaan waktu |
Pembagian waktu dalam setiap sesi
kegiatan |
|||
|
3. |
Process |
Kegiatan yang dilakukan |
Konselor melaksanakan kegiatan sesuai
dengan program yang direncanakan |
|
|
Penanggungjawab kegiatan |
Terdapat penanggungjawab kegiatan
layanan |
|||
|
Jumlah pemberian layanan. |
Terdapat jumlah pertemuan dalam setiap layanan/kegiatan |
|||
|
Ketepatan penggunaan media |
Konselor menggunakan media layanan
sesuai dengan rencana program |
|||
|
Keterlibatan siswa |
Siswa terlibat dalam setiap sesi
kegiatan |
|||
|
4. |
Product |
Pemenuhan kebutuhan siswa |
Kebutuhan siswa terpenuhi secara pribadi-sosial,
belajar dan karir |
|
|
Pencapaian Tujuan program |
Berkurangnya siswa yang melakukan
konsultasi dan konseling |
|||
|
Dampak pemberian program bagi siswa |
Siswa memiliki keterampilan dalam bidang
pribadi-sosial, belajar dan karir |
|||
|
Evaluasi |
Konselor melakukan evaluasi proses dan
hasil pada setiap jenis kegiatan |
|||
|
Pelaporan |
Konselor membuat laporan masing-masing
kegiatan dan diketahui oleh koordinator BK |
|||
|
Tindak Lanjut |
Konselor melakukan tindak lanjut
terhadap kebutuhan siswa yang belum terpenuhi |
|||
|
Konselor melakukan referal terhadap
permasalahan siswa yang di luar batas profesionalitas konselor |
F.
Evaluasi
Program BK di SMA Negeri 6 YogyakartaMenggunakan
Model CIPP
Lembar. Evaluasi
1.
Evaluasi
Context
|
No. |
Pernyataan |
Evaluasi
Context Sesuai
kriteria |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1. |
Konselor
memahami karakteristik peserta didik berdasarkan aspek fisik, kognitif,
sosial, emosi, moral dan religius. |
|
|
|
2. |
Konselor
memahami tugas perkembangan siswa SMA |
|
|
|
3. |
Konselor
menggunakan teknik dalam memahami karakteristik peserta didik |
|
|
|
4. |
Konselor
mengintegrasikan tuga perkembangan dengan standar kompetensi siswa |
|
|
|
5. |
Konselor
menggunakan data hasil analisis kebutuhan sebagai dasar pembuatan program |
|
|
|
6. |
Konselor
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan peserta didik |
|
|
|
7. |
Konselor
menentukan komponen program seperti layanan dasar, layanan peminatan dan
perencanaan individual, layanan responsif dan dukungan sistem |
|
|
|
8. |
Memasukan
semua bidang layanan yaitu pribadi-sosial, belajar dan karir |
|
|
|
9. |
Mengembangkan
tema atau materi layanan berdasarkan bidang layanan |
|
|
|
10. |
Konselor
menentukan tujuan-tujuan program |
|
|
|
11. |
Konselor
mengintegrasikan tujuan program dengan tujuan sekolah yang ingin dicapai |
|
|
2.
Evaluasi
Input
|
No. |
Pernyataan |
Evaluasi
Input Sesuai
kriteria |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1. |
Konselor merencanakan pemberian materi dalam bidang
Pribadi-Sosial |
|
|
|
2. |
Konselor merencanakan pemberian materi dalam bidang
belajar |
|
|
|
3. |
Konselor merencanakan pemberian materi dalam bidang
karir |
|
|
|
4. |
Program yang dibuat mencakup layanan bidang
pribadi-sosial, |
|
|
|
5. |
Program yang dibuat mencakup layanan bidang belajar |
|
|
|
6. |
Program yang dibuat mencakup layanan bidang karir |
|
|
|
7. |
Konselor mencantumkan tujuan kegiatan di setiap
layanan |
|
|
|
8. |
Konselor menggunakan metode dalam setiap kegiatan |
|
|
|
9. |
Program kegiatan yang dilaksanakan dilakukan oleh
konselor profesional |
|
|
|
10. |
Guru BK di sekolah minimal lulusan S1 bimbingan dan
konseling |
|
|
|
11. |
Setiap guru BK melayani 150 siswa |
|
|
|
12. |
Terdapat koordinator BK |
|
|
|
13. |
Kegiatan yang direferal dilakukan oleh tenaga
profesional |
|
|
|
14. |
Konselor menggunakan media pendukung dalam
memberikan layanan |
|
|
|
15. |
Terdapat ruang bimbingan dan konseling |
|
|
|
16. |
Konselor mencantumkan anggaran biaya yang dibutuhkan
untuk melaksanakan suatu program |
|
|
|
17. |
Konselor mencantumkan prosedur pelaksanaan pada
setiap jenis kegiatan |
|
|
|
18. |
Persiapan |
|
|
|
19. |
Layanan Dasar |
|
|
|
20. |
Layanan peminatan dan perencanaan individual |
|
|
|
21. |
Layanan responsif |
|
|
|
22. |
Dukungan sistem |
|
|
|
23. |
Kegiatan tambahan dan pengembangan profesi |
|
|
|
24. |
Pembagian waktu dalam setiap sesi kegiatan |
|
|
3.
Evaluasi
Process
|
No. |
Pernyataan |
Evaluasi
Process sesuai kriteria |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1. |
Konselor melaksanakan kegiatan sesuai dengan program
yang direncanakan |
|
|
|
2. |
Terdapat penanggungjawab kegiatan layanan |
|
|
|
3. |
Terdapat jumlah pertemuan dalam setiap
layanan/kegiatan |
|
|
|
4. |
Konselor menggunakan media layanan sesuai dengan
rencana program |
|
|
|
5. |
Siswa terlibat dalam setiap sesi kegiatan |
|
|
|
6. |
Guru BK melakukan pencatatan pada setiap kegiatan
layanan yang dilaksanakan |
|
|
4.
Evaluasi
Product
|
No. |
Pernyataan |
Evaluasi
Product sesuai kriteria |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1. |
Kebutuhan siswa terpenuhi secara pribadi-sosial,
belajar dan karir, ditujukan melalui hasil observasi |
|
|
|
2. |
Berkurangnya siswa yang melakukan konsultasi dan
konseling |
|
|
|
3. |
Siswa memiliki keterampilan dalam bidang
pribadi-sosial, belajar dan karir |
|
|
|
4. |
Konselor melakukan evaluasi proses dan hasil pada
setiap jenis kegiatan |
|
|
|
5. |
Konselor membuat laporan masing-masing kegiatan dan
diketahui oleh koordinator BK |
|
|
|
6. |
Konselor melakukan tindak lanjut terhadap kebutuhan
siswa yang belum terpenuhi |
|
|
|
7. |
Konselor melakukan referal terhadap permasalahan
siswa |
|
|
LEMBAR REKOMENDASI PROGRAM
1.
Context
Rekomendasi
pada komponen context, sebaiknya ditentukan tujuan-tujuan kegiatan supaya lebih
jelas arah pencapaiannya. Tujuan kegiatan hendaknya disesuaikan dengan tujuan
sekolah dan sesuai dengan visi-misi sekolah sehingga menjadi program yang
selaras.
2.
Input
Rekomendasi
pada komponen input, sebaiknya setiap guru BK hanya menangangi 150 siswa saja,
jika berlebihan maka layanan yang diberikan tidak akan maksimal. Kemudian untuk
melakukan layanan bimbingan dan konseling sebaiknya disediakan tempat untuk
masing-masing kegiatan. Supaya kegiatan berjalan dengan baik, sebaiknya
konselor mengurutkan terlebih dahulu prosedur kegiatan yang akan dilaksanakan.
Untuk menunjang SDM yang berkualitas, disarankan bagi guru BK untuk selalu
update pengetahuan dan melakukan pengembangan diri.
3.
Process
Pada komponen proses, sebaiknya
konselor melakukan kegiatan layanan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat,
kebanyakan guru BK hanya melakukan kegiatan layanan hanya satu kali dan tidak
dievaluasi atau dipantau. Sebaiknya guru BK juga melakukan pencatatan setiap
melakukan kegiatan layanan, sehingga ada bahan yang bisa dijadikan evaluasi.
4.
Product
Rekomendasi pada komponen hasil,
sebaiknya guru BK membuat laporan pada setiap kegiatan yang telah dilakukan
sebagai bentuk tanggungjawab dan bahan evaluasi, kemudian setelah selesai
melakukan kegiatan. Hendaknya guru BK melakukan observasi secara menyeluruh
pada bidang pribadi, sosial, belajar dan karir supaya lebih mengetahui apakah
program yang diberikan tercapai atau tidak.
Komentar
Posting Komentar