Langsung ke konten utama

PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI KONSELING PENDEKATAN REBT

 

PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI KONSELING

PENDEKATAN REBT

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Instrumen dan Media Bimbingan Konseling

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Edi Purwanta, M.Pd dan Dr. Ali Muhtadi, M.Pd

 

 


 

 

Oleh:

Beny Arifin Efendi

20713251031

 

 

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2021


PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI KONSELING PENDEKATAN REBT

 

 

A.  Kajian Teori

Menurut Winkel & Hastuti (2004 : 42), bahwa terapi rational emotive behaviour adalah konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan akal sehat, perasaan, dan cara berperilaku. REBT juga menekankan suatu perubahan yang mendalam dalam cara berfikir dan berperasaan yang mengakibatkan perubahan berarti.

Menurut Corey (2005 : 240), terapi rational emotive behaviour adalah pemecahan masalah yang menitikberatkan pada aspek berfikir, memihak, memutuskan, direktif tanpa banyak berurusan dengan dimensi dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi perasaan.

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa terapi rational emotive behaviour merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berfikir klien yang tidak logis dan irrasional serta menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irrasionalnya.

 

B.  Langkah-Langkah Konseling REBT

 

1.   Bekerjasama dengan konseli

Konselor membangun hubungan dengan konseli yang dapat dicapai; memperhatikan tentang “secondary disturbances” atau hal yang mengganggu konseli yang mendorong konseli mencari bantuan; dan memperlihatkan kepada konseli tentang kemungkinan perubahan yang bisa dicapai.

2.   Melakukan asesmen terhadap masalah, orang, dan situasi

Dimulai dengan mengidentifikasi pandangan-pandangan tentang apa yang menurut konseli salah, memperhatikan bagaimana perasaan konseli mengalami masalah ini, dan melaksanakan asesmen secara umum dengan mengidentifikasi latar belakang personal dan sesial, kedalaman masalah hubungan dengan kepribadian individu, dan sebab-sebab non- psikis (kondisi fisik, lingkungan, dan penyalahgunaan obat).

3.   Mempersiapkan konseli untuk terapi

Konselor beserta konseli mengklarifikasi dan menyetujui tujuan konseling dan motivasi konseli untuk berubah serta mendiskusikan mengenai pendekatan REBT yang akan digunakan dan implikasinya.

4.   Mengimplementasikan program penanganan

Menganalisis episode spesifik di mana inti masalah itu terjadi, menemukan keyakinan-keyakinan yang terlibat dalam masalah, dan mengembangkan homework.

5.   Mengevaluasi kemajuan

Pada menjelang akhir intervensi konselor memastikan apakah konseli mencapai perubahan yang signifikan dalam berpikir atau perubahan tersebut disebabkan oleh faktor lain.

6.   Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling

Konselor mempersiapkan konseli untuk mengakhiri proses konseling dengan menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai. Selain itu, mempersiapkan konseli untuk dapat menerima adanya kemungkinan mengalami masalah di kemudian hari.

C.  Definisi Operasinal

1.      Definisi

Terapi rational emotive behaviour merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berfikir konseli yang tidak logis dan irrasional serta menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irrasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan dan membahas keyakinan yang irrasional sehingga klien akan menjadi efektif dan bahagia.

 

2.      Tahap-tahap Proses Konseling REBT

 

a.         Bekerjasama dengan konseli

b.        Melakukan asesmen terhadap masalah, orang, dan situasi

c.         Mempersiapkan konseli untuk terapi

d.        Mengimplementasikan program penanganan

e.         Mengevaluasi kemajuan

f.           Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling

 

 

 

Kisi-Kisi Evaluasi Konseling REBT

 

Tahap REBT

Indikator

Aspek yang Dievaluasi

1. Bekerjasama dengan konseli

a. Membangun hubungan dengan konseli

Membangun hubungan yang hanga dan terbuka

kepada konseli.

b. Memperhatikan    tentangsecondary disturbances

Mendengarkan konseli secara mendalam dan memperhatikan bahasa tubuh verbal dan non verbal, serta memperhatikan bahasa tubuhnya

 

c. Memperlihatkan kepada konseli tentang kemungkinan perubahan yang bisa dicapai dan kemampuan konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan konseling

Mengungkapan kemungkinan terjadi perubahan

Mengungkapan kemampuan konselor untuk membantu konseli

2. Melakukan asesmen terhadap masalah, orang, dan situasi

a. Mengidentifikasi pandangan apa yang menurut konseli salah

Melakukan identifikasi

Mengenai pandangan konseli yang irasional.

b. Memperhatikan bagaimana perasaan konseli mengalami masalah ini

Mendengarkan dan memahami secara mendalam konseli tanpa prasangka buruk kepada konseli.

c. Melaksanakan asesmen secara umum

Memberikan asesmen

kepada konseli.

3. Mempersiapkan

konseli     untuk terapi

a. Mengklarifikasi dan menyetujui tujuan

konseling dan motivasi konseli untuk berubah

Mengklarifikasi dan

menyetujui tujuan konseling untuk persiapan terapi.

Memotivasi konseli untuk merubah perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku yang sesuai.

b. Mendiskusikan mengenai pendekatan

REBT    yang    akan    digunakan dan implikasinya

Menjelaskan pedekatan

REBT dan manfaatnya dalam terapi.

4. Mengevaluasi kemajuan

Memastikan konseli mencapai perubahan yang signifikan dalam berpikir atau perubahan tersebut disebabkan oleh faktor

lain

Memastikan konseli mencapai perubahan baik kognitif, afeksi dan perilaku konseli.

5. Mempersiapkan konseli     untuk mengakhiri konseling

a. Menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai

Menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai konseli

dalam terapi.

b. Mempersiapkan konseli untuk dapat menerima adanya kemungkinan mengalami masalah di kemudian hari

Mengungkapkan adanya kemungkinan untuk menyiapkan mental konseli terhadap masalah yang akan dialami dikemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEDOMAN EVALUASI KONSELING   

PENDEKATAN REBT

 

Hari/ tgl. pelaksanaan :                                                             Nama Koselor                        :                                                            Nama Konseli                        :                                                            Konseling ke               :                                                           

 

 

No

Aspek yang Dievaluasi

Ya

Tidak

1.

Membangun hubungan yang hangat, empat, terbuka kepada konseli.

 

 

2.

Mendengarkan konseli secara mendalam dan memperhatikan bahasa tubuh verbal dan non verbal dan bertanya mengenai hal yang mengganggu konseli.

 

 

3.

Mengungkapan kemungkinan terjadi perubahan

 

 

4.

Mengungkapan kemampuan konselor untuk membantu konseli

 

 

5.

Melakukan identifikasi mengenai pandangan-pandangan konseli yang irasional.

 

 

6.

Mendengarkan dan memahami secara mendalam konseli tanpa prasangka buruk kepada konseli.

 

 

7.

Memberikan asesmen kepada konseli.

 

 

8.

Mengklarifikasi dan menyetujui tujuan konseling untuk persiapan terapi.

 

 

9.

Memotivasi konseli untuk merubah perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku yang sesuai.

 

 

10.

Menjelaskan pedekatan REBT dan manfaatnya dalam terapi.

 

 

11.

Memastikan konseli mencapai perubahan baik kognitif, afeksi dan perilaku konseli.

 

 

12.

Menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai konseli dalam terapi.

 

 

13.

Mengungkapkan adanya kemungkinan untuk menyiapkan mental konseli terhadap masalah yang akan dialami dikemudian hari.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK PRIBADI DAN SOSIAL

  PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK PRIBADI DAN SOSIAL   Memaafkan dan Meminta Maaf Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi kekurangannya itu, khususnya dosa kepada sesama manusia. Saat orang lain berbuat salah dan dosa yang terarah kepada kita, kita diajari untuk memaafkan. Saat kita berbuat salah dan dosa kepada orang lain, kita diajari untuk meminta maaf. Memaafkan menjadi sebuah kebutuhan bagi seluruh umat manusia. Bukan sekedar sebagai tanda ada rasa bersalah dan pengakuan atas seluruh kesalahan yang telah dibuat. Meminta maaf dan memaafkan juga menjadikan kita sebagai manusia yang penuh dengan kelapangan dan kerendahan hati. Tentu saja akan banyak orang yang kontra dengan pernyataan ini. Mereka seolah menyangkal memaafkan orang yang bersalah harus dilakukan sekalipun sulit. Tapi bagaimanapun memaafkan sebuah kesalahan tidak sama dengan melupakan masa lalu yang menyakitkan. Tentu saja hal ini tidak...

PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK KARIR

  PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK KARIR   Motivasi Karir 1.       Pengertian Motivasi Motivasi berasal dari kata latin, yaitu ”movere” yang artinya dorongan atau daya penggerak. Menurut Fillmore H. Standford dalam buku Mangkunegara (2017:93) mengatakan bahwa “motivation as an energizing condition of the organism that services to direct that organism toward the goal of a certain class” (motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu). Menurut Sardiman (2018:73), motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan untuk membangkitkan gairah belajar siswa sehingga kegiatan belajar dapat berjalan dengan baik. Adapun pengertian motivasi belajar menurut Sardiman (2018:75) adalah “Keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, ...

PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK PENDIDIKAN

  PENGEMBANGAN MEDIA NON ELEKTRONIK PENDIDIKAN   Motivasi Belajar 1.       Pengertian Motivasi Belajar Motivasi berasal dari kata latin, yaitu ”movere” yang artinya dorongan atau daya penggerak. Menurut Fillmore H. Standford dalam buku Mangkunegara (2017:93) mengatakan bahwa “motivation as an energizing condition of the organism that services to direct that organism toward the goal of a certain class” (motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu). Menurut Sardiman (2018:73), motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan untuk membangkitkan gairah belajar siswa sehingga kegiatan belajar dapat berjalan dengan baik. Adapun pengertian motivasi belajar menurut Sardiman (2018:75) adalah “Keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbul...